Jumat, 31 Mei 2013

pengaruh opinion leader dalam komunikasi massa

PERAN OPINION LEADER DALAM MODEL KOMUNIKASI MASSA
Model Arus Komunikasi 
Dalam proses komunikasi di kenal empat model arus alir pesan, yakni model jarum injeksi (hypodermic needle model), model alir satu tahap (one step flow model), model alir dua tahap (two step flow model) dan model alir banyak tahap (multy step flow model).(sardjono, 1989)

·         Model Jarum Injeksi

Secara substansial , model ini adalah one step flow, artinya arus komunikasi berjalan satu arah (dari media massa ke audience). Dasar pemikiran yang melatar belakangi model ini adalah keyakinan bahwa khalayak itu bersikap pasif terhadap berbagai macam informasi yang di sebarkan/disiarkan media massa, sebaliknya media aktif untuk mempengaruhi audience.

Ada beberapa ciri menarik yang pernah dikemukakan oleh elihu katz sebagai berikut : pertama, media massa memiliki kekuatan yang luar biasa besarnya, sanggup menginjeksi secara mendalam ide-ide ke dalam benak-benak yang tidak berdaya (the all powerfull media are able to impress ideas on defenceless minds). Kedua, mass audience di anggap seperti atom-atom yang terpisah satu sama lainnyaserta tidak saling berhubungan  dengan media massa.(sarjono, 1989)

Kesimpulannya, audience di anggap sebagai pihak yang tidak berdaya dan tidak pernah berhubungan satu sama lain. Teori ini seolah menyimpulakan bahwa manusi itu berada dalam “tempurung kelapa” yang tak pernah berhubungan tentang suatu pesan dengan orang lain dan setiap hari informasi yang di perolehberasal dari media .
·         Model Alir Satu Tahap
Model alir satu tahap hampir menyerupai model jarum hipodermik. Kesamaannya, saluran media langsung berhubungan dengan audience-nya. Adapun perbedaan antara dua model tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Model alir satu tahap mengakui bahwa media massa bukanlah all powerfull dan tidakmsemua media mempunyai kekuatan yang sama. Adapun model jarum hipodermik meyakini bahwa media itu all powerfull, ibarat peluru yang di tembakan.
b.      Aspek-aspek seleksi screening (seleksi, penyaringan) di pihak audience  (seperti selektif exposure, selective perception, selective retention) mempunyai impact pesan. Dengan kata lain pesan-[easan yang diterima sanagt tergantung pada system seleksi yang ada pada masing masing audience. Adapun dalam model jarum hip[odermik impact pesan nyaris tidak ada.
c.       Model alir satu tahap mempengaruhi kemungkinan timbulnya reaksi atua efek yang berbeda dikalangan audience atau penerima  (receiving audience) terhadap pesan-pesan media yang sama. Artinya pesan yang sama di teriam oleh audience belum tentu menimbulkan reaksi yang sama. Adapun dalam model jarum hipodermik di asumsikan bahwa bahwa pesan yang sama kan menimbulkan reaksi atau efek yang sama pula.

·         Model Alir Dua Tahap
Model ini mengasumsikan bahwa pesan-pesan media massa tidak seluruhnya langsung mengenai audience . oleh karena itu, dalam model ini di kenal pihak-pihak tertentu yang memebawa pesan dari media untuk di teruskan ke masyarakat . pihak-pihak tertentu dikenal dengan nama opinioj leader (pemimpin opini/pemuka pendapat)
Asumsi dari model alir dua tahap ini adalah bahawa audience (dalam pembahasan opinion leader sering di sebut dengan follower) di anggap tidak bnyak bersentuhan dengan media massa. Adapun opinion leader di asumsikan lebih bnyak bersentuhan dengan media massa . ini juga sejalan dengan pendapat bahwa opinion leader itu pihak yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan follower-nya, termasuk disis adalah kelebihan dalam kemampuannya mengakases pesan media, sementara itu followers mendapat informasi dari opinion leader-nya.

·         Model Alir Banyak Tahap.
Pada prinsipnya, model alir banyak tahap ini adalah gabungan darinsemua model yang sudah di sebutkan di atasv.model ini menyatalkan bahwa pesan-pesan media massa menyebar kepada audience atau khalayak melalui interaksi yang kompleks. Media mencapai khalayak dapat secara langsung atau tidak langsung melalui  relaying (penerusan) secara beranting, baik melalui pemuka-pemuka masyarakat (opinion leader) maupun melaui situasi saling berhubungan antar sesam audience.
   
Sejarah Opinion Leader
Intelektual amerika begitu ketakutan ketika model jarum hipodermik telah mencapai sasarannya secara jelas dengan implikasi munculnya perang dunia I yang di hembuskan oleh adolf hitler,model tersebut di anggap model yang paling ampuh guna membangkitkan “kemarahan” massa.begitu kuat dan besarnya peran media dalam mempengaruhi perilaku massa.
Untuk itu, paul lazarfeld dan kawan kawannya mencoba mengkaji kembali kapasitas media massa dalam membawakan perubahan perubahan ,ternyata melalui suatu penelitian di Ery County ,Ohio,Amerika Serikat tentang “perilaku  pemilih” dalam pemilihan presiden pada tahun 1940 menunjukan hasil yang sangat kontras (terutama bagi mereka penganut model jarum hipodermik) di temukan fakta bahwa media mempunyai peran sangat kecil dan terbatas dalam mempengaruhi perilaku pemilih.teori penelitian ini telah membuyarkan teori jarum hipodermik yang selama ini di kembangkan dan di akui keampuahnnya.
Beberapa riset telah menunjukan hampir tidak ada pemungutan suara secara langsung di pengaruhi oleh media,data data menunjukan bahwa ide ide mengalir dari radio dn barang cetakan lain ,disini menunjukan betapa besarnya pengaruh opinion leader ,khususnya dalam mempengaruhi masyarakat pemilih,  dari sini pula berkembang teori tentang peranan opinion leader dalam masyarakat.
Istilah opinion leader perbincangan dalam literatur komunikasi sekitar tahun 1950 samapi 1960-an ,sebelumnya dalam literatur komunikasi seiring di gunakan kata Influentials, Influencers untuk menyebut opinion leader, kata opinion leader kemudian lebih lekat pada kondisi masyarakat di pedesaan, sebab tingkat media exsposurenya yang masih rendah dan tingkat pendidikan mayarakat yang belum menggembirakan, akses media lebih dimungkinkan dari mereka yang mempunyai tingkat pemahaman tinggi dan kebutuhan akan media tidak rendah. melalui informasi dari merekalah kadang perkembangan kontemporer diketahui oleh masyarakat.ini berarti,mereka secara tidak langsung telah menjadi perantara (balikan penerjemah pesan) berbagai informasi yang diterimanya kemudian di teruskan kepada masyarakat ,pihak yang sering terkena media exsposure di masyarakat desa kadang di perankan oleh opinion leader,mereka ini sangat dipercaya di samping juga menjadi panutan,tempat bertanya dan meminta nasihat bagi anggota masyarakatnya.
Adapun kata opinion leadership (Kepemimpinan Opini) lebih menunjuk kepada jenis kegiatan atau hal hal yabg berhubungan dengan aktivitas opinion leader .namun, dalam hal ini tidak akan bisa membedakan terlalu tajam terhadap kedua istilah tersebut .sebab, membahas opinion leadership (sebagai lembaga sosial) tidak akan terlepas dari peran opinion leader ,sedangkan membahas opinion leader tak lain juga membahas aktivitas dan kegiata pihak itu yang menjadi bahasan opinion leadership.
Ada dua pengelompokan opinion leader berdasarkan aktip atau tidaknya berdasarkan pada perilaku ,pertama ,opinion leader aktip (opinion giving).opinion leader di sebut aktif jika ia sengaja mencari penerima atau followers untuk mengumumkan atau mensosialisasikan suatu informasi.sebagai contoh,program keluarga bencana (KB) bertujuan mengendalikan pertumbuhan penduduk, bagi masyarakat desa program ini masih relatif baru, sebab selam bertahun tahun mereka  telah terbisa dengan konsep hidup dengan banyak anak’mereka percanya dapat memperbanyak rejeki yang datang”akibat konsep yang telah turun temurun ini, kedatangan program kb sangat sulit diterima .bagaimana mungkin mereka yang mengharapkan rejeki dari anak harus dibatasi  tingkat kelahirannya. Dalam pemahaman masyarakat desa program semacam ini sama saja dengan membatasi rejeki mereka meskipun sebenarnya tujuan kb tidak semata mata membatasi kelahiran.
Dalam kondisi demikian ,mempungsikan opinion leader adalah jalan yang paling baik,sebab lewat informasi media masyarakat kita belum percaya sepenuhnya,apalagi banyak diantara masyarakat yang masih buta huruf,di samping karena opiion leader adalah “orang mereka sendiri” kelebihan lain dengan cara ini adalah kepercayaan terhadap opinion leader terlebih dahulu.
Kedua,opinion leader pasif  (opinion seeking) adalah opinion leader di cari oleh followersnya ,dalam hal ini folowers aktip mencari  sumber informasi kepada opinion leader sehubungan dengan berbagai masalah yang telah di hadapi ,dalam beberapa hal program kb juga dapat dijadikan contoh kasus ini ,tergantung mana yang aktif,jika followersnya yang aktif maka di kategorikan sebagai opinion seeking ,sedangkan jika opinion leadernya yang aktip disebut sebagai opinion geving.
Kita tidak akan mendikotomikan dua maca opinion leader tersebut ,cukup kita mengetahui bahwa ada dua pengelompokan berdasarkan aktip atau tidaknya opinion leader,yang jelas keduanya sama sama menjadi sumber informasi dan opini masyarakat.


C.    Cara Mengetahui Opinion Leader
Menurut Everett M. Rogers (1973) setidak-tidaknya ada tiga cara mengukur atau mengetahui adanya opinion leader. Ketiga cara yang disebutkan dalam literatur-literatul komunikasi itu adalah sebagai berikut:
·         Metode Sosiometrik
Dalam metode ini pada masyarakat ditanyakan kepada siapa mereka meminta nasihat atau mencari informasi mengenai masalah kemasyarakatan yang dihadapinya. Metode ini bisa disebut sebagai sosiometrik atau jaringan komunikasi. Misalnya masalah itu adalah tentang difusi inovasi. Kepada masyarakat diajukan pertanyaan: “Dari mana Anda memperoleh informasi tentang difusi inovasi?” Pihak yang mendapat poin banyak dari penunjukan masyarakat itulah yang disebut sebagai opinion leader. Sebab, orang tersebutlah yang paling banyak mengetahui dan dimintai nasihat tentang difusi inovasi. Teknik adalah cara yang paling valid untuk menentukan siapa pemimpin masyarakat sesuai dengan pandangan para pengikutnya.
·         Informant Ratting
Lewat metode ini diajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu pada orang/responden yang dianggap sebagai key informants dalam masyarakat mengenai siapa yang dianggap masyarakat sebagai pemimpin-pemimpin mereka. Dalam metode ini orang yang ingin mengetahui pemimpin masyarakat lewat responden harus jeli dalam memilih key informants dan mereka yang benar-benar dengan masyarakatlah yang selayaknya dipilih. Di sebuah desa Amerika Latin para pendeta bisa dianggap sebagai key informants yang dimaksud bisa menjawab pertanyaan siapa-siapa yang berpengaruh di desanya.
·         Self Designing Method
Dengan metode ini kita dapat mengajukan pertanyaan kepada responden dan minta ditunjukkan tendensi orang lain yang dapat menunjuk siapa-siapa yang diperkirakan mempunyai pengaruh. Misalnya, “Apakah orang-orang yang memerlukan informasi atau nasihat datang pada Bapak/Ibu?” Jika jawabannya “tidak”, maka kita bisa meminta kepadanya untuk menunjukkan siapa orang yang sering dimintai atau nasihat. Validitas pertanyaan ini sangat tergantung pada ketepatan (akurasi) responden untuk mengidentifikasi dirinya sebagai pemimpi. Dengan kata lain, bisa jadi ia jarang dimintai nasihat atau informasi, namun dalam menjawab petanyaan dia mengatakan sering.
KARAKTERISTIK OPINION LEADER
Opinion Leader adalah orang yang mempunyai keunggulan dari masyarakat kebanyakan. Sudah sepantasnya jika mereka mempunyai karakteristik yang membedakan dirinya dengan orang lain. Beberapa karakteristik yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.      Lebih tinggi pendidikan formalnya dibandingkan dengan anggota masyarakat lain;
2.      Lebih tinggi Status Sosial Ekonominya (SSE);
3.      Lebih inovatif dalam menerima dan mengadopsi ide baru;
4.      Lebih tinggi pengenalan medianya (media exposure)
5.      Kemampuan empati lebih besar;
6.      Partisipasi social lebih besar;
7.      Lebih kosmopolit (mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas)

Di samping itu ada juga syarat seorang pemimpin (termasuk pemimpin opini) yang pernah dikatakan oleh Floyd Ruch sebagai berikut:
1.      Social perception, artinya seorang pemimpin harus dapat memiliki ketajaman dalam menghadapi situasi;
2.      Ability in abstract thinking, artinya pemimpin harus memiliki kecakapan secara abstrak terhadap masalah yang dihadapi.
3.      Emotional stability, artinya pemimpin harus memiliki perasaan stabil, tidak mudah terkena pengaruh dari luar (yang tidak diyakini dan bertolak belakang denagn keyakina masyarakat) (slamet  santoso,1992)

Salah satu keunggulan opinion leader di bandingkan dengan masayrakat kebanyakan adalah pada umumnya opinion leader itu lebih menyesuaikan diri dengan masyarakatnya, lebih kompeten dan lebih tahu memelihara norma yang ada.
Menurut humans (1961), “seorang yang memilki status sosial tinggi (pemimpin pendapat) akan senantiasa memelihara nilai-nilai serta norma kelompoknya sebagai syarat minimal dalam mempertahankan statusnya.” (depari dan Andrew, 1982)
Pada diri seorang pemimpin opini biasa jadi hanya melekat beberapa ciri saja. Namun, karena kemampuannya menjaga kredibilitas (karena wibawa atau wewenang) ia ditokohkan oleh masyarakatnya. Yang jelas dalam beberapa hal ia lebih unggul dari pada yang lainnya.
Monomorfik dan Polimorfik Opinion Leader
Ditinjau dari penguasaan materinya, pemuka pendapat dapat digolongkan  menjadi dua. (Merton, 1949). Pertama, monomorfik (monomorphic), yakni jika pemuka pendapat hanya menguasai satu permasalahan saja. Pemimpin opini semacam ini hanya mampu mengatasi satu permasalahan yang ada di masyarakat. (Rogers,1966).
Kedua, Polimorfik (polymorfhic), yakni jika pemuka pendapat menguasai lebih dari satu permasalahan. Pemimpin opini semacam ini mampu mengatasi berbagai permasalahan yang ada di masyarakat.
Untuk ukuran opinion leader yang ada dipedesaan, saat ini sangat sulit dijumpai seseorang yang hanya menguasai satu permasalahan saja. Oleh karena itu, sebagai seorang pemuka yang di tokohkan dan bahkan kadang di anggap “serba tahu”, kepemimpinan opini lebih polimorfik. Misalnya adalah seorang kiyai. Sebagai seorang pemimpin opini di pedesaan, ia tidak hanya di minta nasihat tentang masalah agama semata, namun juga permasalahan lain.
Contohnya adalah cara bercocok tanam yang baik (pemilihan hari atau bulan), bagaimana cara mengobati penyakit, atau bahkan dipercaya unuk menentukan jodoh seorang warga masyarakat. Hal ini menunjukan bahwa opinion leader, dalam hal ini seorang kiyai , tergolong polimorfik. Kenyataan ini sangat dimungkinkan terjadi karena di desa jarang ada diferensiasi atas dasar jabatan dan pekerjaan. Pemuka pendapat dalam masyarakat seperti itu biasanya polimorfik dengan menguasai, dipercaya dan mampu menyelesaikan banyak persoalan di masyarakat.
Sumber :
Nurudin. sistem komunikasi indonesia. rajawali pers. jakarta : 2003
Mulyana,deddy. Ilmi komunikasi suatu pengantar. Rosda. Bandung: 2007
Severin, werner j. Tankard jr, james w. Teori komunikasi sejarah,metode, dsn terapan di dalam media massa edisi 5.kencana. jakarta : 2008



Tidak ada komentar:

Posting Komentar