PERAN OPINION LEADER DALAM MODEL
KOMUNIKASI MASSA
Model
Arus Komunikasi
Dalam
proses komunikasi di kenal empat model arus alir pesan, yakni model jarum
injeksi (hypodermic needle model),
model alir satu tahap (one step flow
model), model alir dua tahap (two
step flow model) dan model alir banyak tahap (multy step flow model).(sardjono, 1989)
·
Model Jarum Injeksi
Secara
substansial , model ini adalah one step
flow, artinya arus komunikasi berjalan satu arah (dari media massa ke
audience). Dasar pemikiran yang melatar belakangi model ini adalah keyakinan
bahwa khalayak itu bersikap pasif terhadap berbagai macam informasi yang di
sebarkan/disiarkan media massa, sebaliknya media aktif untuk mempengaruhi
audience.
Ada
beberapa ciri menarik yang pernah dikemukakan oleh elihu katz sebagai berikut :
pertama, media massa memiliki kekuatan yang luar biasa besarnya, sanggup
menginjeksi secara mendalam ide-ide ke dalam benak-benak yang tidak berdaya (the all powerfull media are able to impress
ideas on defenceless minds). Kedua, mass audience di anggap seperti
atom-atom yang terpisah satu sama lainnyaserta tidak saling berhubungan dengan media massa.(sarjono, 1989)
Kesimpulannya,
audience di anggap sebagai pihak yang tidak berdaya dan tidak pernah
berhubungan satu sama lain. Teori ini seolah menyimpulakan bahwa manusi itu
berada dalam “tempurung kelapa” yang tak pernah berhubungan tentang suatu pesan
dengan orang lain dan setiap hari informasi yang di perolehberasal dari media .
·
Model Alir Satu Tahap
Model
alir satu tahap hampir menyerupai model jarum hipodermik. Kesamaannya, saluran
media langsung berhubungan dengan audience-nya. Adapun perbedaan antara dua
model tersebut adalah sebagai berikut:
a. Model
alir satu tahap mengakui bahwa media massa bukanlah all powerfull dan tidakmsemua media mempunyai kekuatan yang sama.
Adapun model jarum hipodermik meyakini bahwa media itu all powerfull, ibarat
peluru yang di tembakan.
b. Aspek-aspek
seleksi screening (seleksi,
penyaringan) di pihak audience (seperti selektif exposure, selective
perception, selective retention) mempunyai impact pesan. Dengan kata lain
pesan-[easan yang diterima sanagt tergantung pada system seleksi yang ada pada
masing masing audience. Adapun dalam model jarum hip[odermik impact pesan
nyaris tidak ada.
c. Model
alir satu tahap mempengaruhi kemungkinan timbulnya reaksi atua efek yang
berbeda dikalangan audience atau penerima
(receiving audience) terhadap
pesan-pesan media yang sama. Artinya pesan yang sama di teriam oleh audience
belum tentu menimbulkan reaksi yang sama. Adapun dalam model jarum hipodermik
di asumsikan bahwa bahwa pesan yang sama kan menimbulkan reaksi atau efek yang
sama pula.
·
Model Alir Dua Tahap
Model
ini mengasumsikan bahwa pesan-pesan media massa tidak seluruhnya langsung
mengenai audience . oleh karena itu, dalam model ini di kenal pihak-pihak
tertentu yang memebawa pesan dari media untuk di teruskan ke masyarakat .
pihak-pihak tertentu dikenal dengan nama opinioj leader (pemimpin opini/pemuka
pendapat)
Asumsi
dari model alir dua tahap ini adalah bahawa audience (dalam pembahasan opinion leader sering di sebut dengan
follower) di anggap tidak bnyak bersentuhan dengan media massa. Adapun opinion
leader di asumsikan lebih bnyak bersentuhan dengan media massa . ini juga
sejalan dengan pendapat bahwa opinion leader itu pihak yang mempunyai kelebihan
dibandingkan dengan follower-nya,
termasuk disis adalah kelebihan dalam kemampuannya mengakases pesan media, sementara
itu followers mendapat informasi dari opinion
leader-nya.
·
Model Alir Banyak Tahap.
Pada
prinsipnya, model alir banyak tahap ini adalah gabungan darinsemua model yang
sudah di sebutkan di atasv.model ini menyatalkan bahwa pesan-pesan media massa menyebar
kepada audience atau khalayak melalui interaksi yang kompleks. Media mencapai
khalayak dapat secara langsung atau tidak langsung melalui relaying (penerusan) secara beranting, baik
melalui pemuka-pemuka masyarakat (opinion
leader) maupun melaui situasi saling berhubungan antar sesam audience.
Sejarah
Opinion Leader
Intelektual
amerika begitu ketakutan ketika model jarum hipodermik telah mencapai
sasarannya secara jelas dengan implikasi munculnya perang dunia I yang di hembuskan oleh adolf
hitler,model tersebut di anggap model yang paling ampuh guna membangkitkan
“kemarahan” massa.begitu kuat dan besarnya peran media dalam mempengaruhi
perilaku massa.
Untuk
itu, paul lazarfeld dan kawan kawannya
mencoba mengkaji kembali kapasitas media massa dalam membawakan perubahan
perubahan ,ternyata melalui suatu penelitian di Ery County ,Ohio,Amerika
Serikat tentang “perilaku pemilih” dalam pemilihan presiden pada tahun
1940 menunjukan hasil yang sangat kontras (terutama bagi mereka penganut model
jarum hipodermik) di
temukan fakta bahwa media mempunyai peran sangat kecil dan terbatas dalam
mempengaruhi perilaku pemilih.teori penelitian ini telah membuyarkan teori
jarum hipodermik yang selama ini di kembangkan dan di akui keampuahnnya.
Beberapa
riset telah menunjukan hampir tidak ada pemungutan suara secara langsung di
pengaruhi oleh media,data data menunjukan bahwa ide ide mengalir dari radio dn
barang cetakan lain ,disini menunjukan betapa besarnya pengaruh opinion leader
,khususnya dalam mempengaruhi masyarakat pemilih, dari
sini pula berkembang teori tentang peranan opinion leader dalam masyarakat.
Istilah
opinion leader perbincangan dalam literatur komunikasi sekitar tahun 1950
samapi 1960-an
,sebelumnya dalam literatur komunikasi seiring di gunakan kata Influentials, Influencers untuk menyebut opinion
leader, kata opinion leader kemudian lebih
lekat pada kondisi masyarakat di pedesaan,
sebab
tingkat media exsposurenya yang
masih rendah dan tingkat pendidikan mayarakat yang belum menggembirakan, akses media lebih dimungkinkan dari
mereka yang mempunyai tingkat pemahaman tinggi dan kebutuhan akan media tidak rendah. melalui informasi dari merekalah
kadang perkembangan
kontemporer diketahui oleh masyarakat.ini berarti,mereka secara tidak langsung
telah menjadi perantara (balikan
penerjemah pesan)
berbagai informasi yang diterimanya kemudian di teruskan kepada masyarakat
,pihak yang sering terkena media exsposure di masyarakat desa kadang di
perankan oleh opinion leader,mereka ini sangat dipercaya di samping juga
menjadi panutan,tempat bertanya dan meminta nasihat bagi anggota masyarakatnya.
Adapun
kata opinion leadership (Kepemimpinan
Opini)
lebih menunjuk kepada jenis kegiatan atau hal hal yabg berhubungan dengan
aktivitas opinion leader .namun, dalam hal ini tidak akan bisa membedakan
terlalu tajam terhadap kedua istilah tersebut .sebab, membahas opinion
leadership (sebagai
lembaga sosial) tidak
akan terlepas dari peran opinion leader ,sedangkan membahas opinion leader tak lain
juga membahas aktivitas dan kegiata pihak
itu yang menjadi bahasan opinion leadership.
Ada
dua pengelompokan opinion leader
berdasarkan aktip atau tidaknya berdasarkan pada perilaku ,pertama ,opinion
leader aktip (opinion
giving).opinion
leader di sebut aktif jika ia sengaja mencari penerima atau followers untuk
mengumumkan atau mensosialisasikan suatu informasi.sebagai contoh,program
keluarga bencana (KB) bertujuan mengendalikan
pertumbuhan penduduk, bagi
masyarakat desa program ini masih relatif baru, sebab
selam bertahun tahun mereka telah
terbisa dengan konsep hidup dengan banyak anak’mereka percanya dapat
memperbanyak rejeki yang datang”akibat konsep yang telah turun temurun ini, kedatangan program kb sangat sulit
diterima .bagaimana mungkin mereka yang mengharapkan rejeki dari anak harus
dibatasi tingkat kelahirannya. Dalam pemahaman masyarakat desa
program semacam ini sama saja dengan membatasi rejeki mereka meskipun
sebenarnya tujuan kb tidak semata mata membatasi kelahiran.
Dalam
kondisi demikian ,mempungsikan opinion leader adalah jalan yang paling
baik,sebab lewat informasi media masyarakat kita belum percaya
sepenuhnya,apalagi banyak diantara masyarakat yang masih buta huruf,di samping
karena opiion leader adalah “orang mereka sendiri” kelebihan lain dengan cara
ini adalah kepercayaan terhadap opinion leader terlebih dahulu.
Kedua,opinion
leader pasif (opinion seeking) adalah opinion leader di cari oleh
followersnya ,dalam hal ini folowers aktip mencari sumber informasi kepada opinion leader
sehubungan dengan berbagai masalah yang telah di hadapi ,dalam beberapa hal
program kb juga dapat dijadikan contoh kasus ini ,tergantung mana yang
aktif,jika followersnya yang aktif maka di kategorikan sebagai opinion seeking
,sedangkan jika opinion leadernya yang aktip disebut sebagai opinion geving.
Kita
tidak akan mendikotomikan dua maca opinion leader tersebut ,cukup kita
mengetahui bahwa ada dua pengelompokan berdasarkan aktip atau tidaknya opinion
leader,yang jelas keduanya sama sama menjadi sumber informasi dan opini
masyarakat.
C.
Cara
Mengetahui Opinion Leader
Menurut
Everett M. Rogers (1973) setidak-tidaknya ada tiga cara mengukur atau
mengetahui adanya opinion leader.
Ketiga cara yang disebutkan dalam literatur-literatul komunikasi itu adalah sebagai
berikut:
·
Metode Sosiometrik
Dalam
metode ini pada masyarakat ditanyakan kepada siapa mereka meminta nasihat atau
mencari informasi mengenai masalah kemasyarakatan yang dihadapinya. Metode ini
bisa disebut sebagai sosiometrik atau jaringan komunikasi. Misalnya masalah itu
adalah tentang difusi inovasi. Kepada masyarakat diajukan pertanyaan: “Dari
mana Anda memperoleh informasi tentang difusi inovasi?” Pihak yang mendapat
poin banyak dari penunjukan masyarakat itulah yang disebut sebagai opinion leader.
Sebab, orang tersebutlah yang paling banyak mengetahui dan dimintai nasihat
tentang difusi inovasi. Teknik adalah cara yang paling valid untuk menentukan
siapa pemimpin masyarakat sesuai dengan pandangan para pengikutnya.
·
Informant Ratting
Lewat
metode ini diajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu pada orang/responden yang
dianggap sebagai key informants dalam
masyarakat mengenai siapa yang dianggap masyarakat sebagai pemimpin-pemimpin
mereka. Dalam metode ini orang yang ingin mengetahui pemimpin masyarakat lewat
responden harus jeli dalam memilih key informants dan mereka yang benar-benar
dengan masyarakatlah yang selayaknya dipilih. Di sebuah desa Amerika Latin para
pendeta bisa dianggap sebagai key
informants yang dimaksud bisa menjawab pertanyaan siapa-siapa yang
berpengaruh di desanya.
·
Self Designing Method
Dengan
metode ini kita dapat mengajukan pertanyaan kepada responden dan minta
ditunjukkan tendensi orang lain yang dapat menunjuk siapa-siapa yang
diperkirakan mempunyai pengaruh. Misalnya, “Apakah orang-orang yang memerlukan
informasi atau nasihat datang pada Bapak/Ibu?” Jika jawabannya “tidak”, maka
kita bisa meminta kepadanya untuk menunjukkan siapa orang yang sering dimintai
atau nasihat. Validitas pertanyaan ini sangat tergantung pada ketepatan (akurasi)
responden untuk mengidentifikasi dirinya sebagai pemimpi. Dengan kata lain,
bisa jadi ia jarang dimintai nasihat atau informasi, namun dalam menjawab
petanyaan dia mengatakan sering.
KARAKTERISTIK OPINION LEADER
Opinion Leader
adalah orang yang mempunyai keunggulan dari masyarakat kebanyakan. Sudah
sepantasnya jika mereka mempunyai karakteristik yang membedakan dirinya dengan
orang lain. Beberapa karakteristik yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Lebih
tinggi pendidikan formalnya dibandingkan dengan anggota masyarakat lain;
2. Lebih
tinggi Status Sosial Ekonominya (SSE);
3. Lebih
inovatif dalam menerima dan mengadopsi ide baru;
4. Lebih
tinggi pengenalan medianya (media
exposure)
5. Kemampuan
empati lebih besar;
6. Partisipasi
social lebih besar;
7. Lebih
kosmopolit (mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas)
Di
samping itu ada juga syarat seorang pemimpin (termasuk pemimpin opini) yang
pernah dikatakan oleh Floyd Ruch sebagai berikut:
1. Social perception,
artinya seorang pemimpin harus dapat memiliki ketajaman dalam menghadapi
situasi;
2. Ability in abstract
thinking, artinya pemimpin harus memiliki
kecakapan secara abstrak terhadap masalah yang dihadapi.
3. Emotional stability,
artinya pemimpin harus memiliki perasaan stabil, tidak mudah terkena pengaruh
dari luar (yang tidak diyakini dan bertolak belakang denagn keyakina
masyarakat) (slamet santoso,1992)
Salah
satu keunggulan opinion leader di
bandingkan dengan masayrakat kebanyakan adalah pada umumnya opinion leader itu lebih menyesuaikan
diri dengan masyarakatnya, lebih kompeten dan lebih tahu memelihara norma yang
ada.
Menurut
humans (1961), “seorang yang memilki status sosial tinggi (pemimpin pendapat)
akan senantiasa memelihara nilai-nilai serta norma kelompoknya sebagai syarat
minimal dalam mempertahankan statusnya.” (depari dan Andrew, 1982)
Pada diri seorang
pemimpin opini biasa jadi hanya melekat beberapa ciri saja. Namun, karena
kemampuannya menjaga kredibilitas (karena wibawa atau wewenang) ia ditokohkan
oleh masyarakatnya. Yang jelas dalam beberapa hal ia lebih unggul dari pada
yang lainnya.
Monomorfik dan Polimorfik Opinion Leader
Ditinjau dari penguasaan materinya, pemuka
pendapat dapat digolongkan menjadi dua.
(Merton, 1949). Pertama, monomorfik (monomorphic), yakni jika pemuka pendapat
hanya menguasai satu permasalahan saja. Pemimpin opini semacam ini hanya mampu
mengatasi satu permasalahan yang ada di masyarakat. (Rogers,1966).
Kedua, Polimorfik (polymorfhic), yakni jika
pemuka pendapat menguasai lebih dari satu permasalahan. Pemimpin opini semacam
ini mampu mengatasi berbagai permasalahan yang ada di masyarakat.
Untuk ukuran opinion leader yang ada
dipedesaan, saat ini sangat sulit dijumpai seseorang yang hanya menguasai satu
permasalahan saja. Oleh karena itu, sebagai seorang pemuka yang di tokohkan dan
bahkan kadang di anggap “serba tahu”, kepemimpinan opini lebih polimorfik.
Misalnya adalah seorang kiyai. Sebagai seorang pemimpin opini di pedesaan, ia
tidak hanya di minta nasihat tentang masalah agama semata, namun juga
permasalahan lain.
Contohnya adalah cara bercocok tanam yang
baik (pemilihan hari atau bulan), bagaimana cara mengobati penyakit, atau
bahkan dipercaya unuk menentukan jodoh seorang warga masyarakat. Hal ini
menunjukan bahwa opinion leader, dalam hal ini seorang kiyai , tergolong
polimorfik. Kenyataan ini sangat dimungkinkan terjadi karena di desa jarang ada
diferensiasi atas dasar jabatan dan pekerjaan. Pemuka pendapat dalam masyarakat
seperti itu biasanya polimorfik dengan menguasai, dipercaya dan mampu
menyelesaikan banyak persoalan di masyarakat.
Sumber :
Nurudin. sistem komunikasi indonesia. rajawali pers. jakarta : 2003
Mulyana,deddy. Ilmi komunikasi suatu pengantar. Rosda. Bandung: 2007
Severin, werner j. Tankard jr, james w. Teori komunikasi sejarah,metode,
dsn terapan di dalam media massa edisi 5.kencana. jakarta : 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar